Perayaan Ekaristi

Sejarah Kami

Di tengah jantung kota, Gereja Santo Servatius berdiri sebagai mercusuar iman dan komunitas bagi umat. Didirikan pada tahun 1956, gereja kami telah menjadi rumah spiritual bagi generasi jemaat yang setia.

Misi kami adalah menyebarkan kasih Kristus melalui pelayanan, pendidikan, dan persekutuan yang penuh makna.

Pelajari Lebih Lanjut

Jadwal Misa

Jadwal Misa Mingguan

MINGGU
06:00 WIB08:30 WIB17:00 WIB
SABTU
17:00 WIB

Jadwal Misa Harian

Misa Harian
05:30 WIB
Lihat Jadwal Lengkap

Renungan Harian

Lihat Semua Renungan →
Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Kamis, 13 Agustus 2026
Rabu, 12 Agustus 2026 • Mirifica (Komsos KWI)

Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Kamis, 13 Agustus 2026

KAMIS PEKAN BIASA XIX
Santo Pontianus – Paus
Santo Hippolitus – Imam & Martir
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I – Yehezekiel 12:1-12

Berjalanlah seperti orang buangan di depan mereka pada siang hari.

Bacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Tuhan bersabda kepadaku, “Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar, sebab mereka itu kaum pemberontak. Maka engkau, anak manusia, siapkanlah bagimu barang-barang seperti seorang buangan, dan berjalanlah seperti seorang buangan di hadapan mereka pada siang hari. Berangkatlah dari tempatmu sekarang ini ke tempat yang lain seperti seorang buangan di depan mata mereka. Barangkali mereka akan insaf bahwa mereka adalah kaum pemberontak. Bawalah barang-barangmu itu ke luar seperti barang-barang seorang buangan pada siang hari di depan mata mereka. Dan engkau sendiri harus keluar pada malam hari di depan mata mereka, seperti seorang yang harus keluar dan pergi ke pembuangan. Di depan mata mereka buatlah sebuah lubang, dan keluarlah dari situ. Di depan mata mereka taruhlah barang-barangmu di atas bahumu, dan bawalah itu ke luar pada malam gelap. Engkau harus menutupi mukamu, sehingga engkau tidak melihat tanah. Sebab Aku membuat engkau menjadi lambang bagi kaum Israel.”

Lalu kulakukan seperti diperintahkan kepadaku: Aku membawa pada siang hari barang-barang seperti perlengkapan seorang buangan, dan pada malam hari aku membuat lubang di tembok dengan tanganku; pada malam gelap aku keluar dan di hadapan mata mereka aku menaruh barang-barangku ke atas bahuku. Keesokan harinya, turunlah sabda Tuhan kepadaku, “Hai anak manusia, bukankah kaum Israel, kaum pemberontak itu bertanya kepadamu, ‘Apakah yang kaulakukan ini?’ Katakanlah kepada mereka, beginilah sabda Tuhan Allah, ‘Ucapan ilahi ini mengenai raja di Yerusalem dan seluruh kaum Israel yang tinggal di sana.’ Katakanlah, ‘Aku menjadi lambang bagimu, Seperti yang Kulakukan ini, begitulah akan berlaku bagi mereka; sebagai orang buangan mereka akan pergi ke pembuangan. Dan raja mereka akan menaruh barang-barangnya ke atas bahunya pada malam gelap, dan akan pergi ke luar. Orang akan membuat sebuah lubang di tembok supaya baginya ada jalan keluar, ia akan menutupi mukanya supaya ia tidak akan melihat tanah itu’.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 78:56-59.61-62 – Refren:7c

Janganlah kita melupakan karya-karya Allah.

  • Mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya, mereka murtad dan berkhianat seperti moyang mereka, mereka menyimpang seperti busur yang tak dapat dipercaya.
  • Mereka menyakiti hati Allah dengan mendirikan bukit-bukit pengorbanan, membuat Dia cemburu karena patung-patung pujaan mereka. Mendengar hal itu, allah menjadi geram, Ia menolak Israel sama sekali.
  • Ia membiarkan andalan-Nya tertawan, membiarkan kebanggaan-Nya jatuh ke tangan lawan; Ia membiarkan umat-Nya dimangsa pedang, dan murkalah Ia terhadap milik pusaka-Nya.

Bait Pengantar Injil – Mazmur 119:135
Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Bacaan Injil – Matius 18:21-19:1

Aku berkata kepadamu, ‘Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni.’

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kalikah?”

Yesus menjawab, “Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya, raja lalu memerintahkan, supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual untuk membayar utangnya. Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya, “Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi.” Tergeraklah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapuskannya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya, “Bayarlah hutangmu! Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya, “Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara sampai semua utangnya ia lunasi.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu dan berkata kepadanya, “Hai hamba yang jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” Maka marahlah tuannya dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utangnya. Demikian pula Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadapmu, jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya berangkatlah Ia dari Galilea, dan tiba di daerah Yudea, di seberang sungai Yordan.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Menurut penelitian Johns Hopkins Medicine, orang yang mempraktikkan pengampunan secara konsisten memiliki tekanan darah yang lebih stabil, risiko penyakit jantung yang lebih rendah, dan tingkat stres yang lebih ringan. Artinya, memaafkan bukan hanya tindakan rohani, tetapi juga membawa dampak nyata bagi kesehatan mental dan fisik kita. Namun, kenyataannya, memaafkan bukan perkara mudah, apalagi jika luka yang ditinggalkan dalam dan menyakitkan.

Petrus bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh.” Jawaban ini tidak sekadar matematika pengampunan, tetapi menunjukkan pengampunan tidak boleh dibatasi. Allah sendiri telah mengampuni kita tanpa batas. Masalahnya, seperti perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni utang kecil dari sesama hamba, kita sering memohon pengampunan dari Allah, tetapi sulit memberi pengampunan kepada orang lain.

Santo Yohanes Paulus II berkata, “Tanpa pengampunan, tidak akan ada masa depan bagi umat manusia.” Pengampunan bukan berarti melupakan luka, melainkan memilih untuk tidak membiarkan luka itu mengendalikan hidup kita. Ketika kita mengampuni, kita menyerahkan keadilan kepada Tuhan dan membiarkan kasih-Nya menyembuhkan.

Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk mengampuni seperti Engkau telah mengampuni kami. Berilah kami hati yang luas untuk mengasihi lebih dari sekadar membalas. Semoga damai dan belas kasih-Mu menjadi kekuatan kami setiap hari, amin.

This image has an empty alt attribute; its file name is ChatGPT-Image-Jun-4-2026-04_04_43-PM-1.png

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor

Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Baca Selengkapnya
Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Rabu, 12 Agustus 2026
Selasa, 11 Agustus 2026 • Mirifica (Komsos KWI)

Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Rabu, 12 Agustus 2026

RABU PEKAN BIASA XIX
Santa Yohana Fransiska de Chantal – Biarawati
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I – Yehezkiel 9:1-7;10:18-22

Tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan keji di Yerusalem.

Bacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Aku mendengar Tuhan berseru dengan suara nyaring, “Majulah ke mari, hai para penghukum Yerusalem! Bawalah masing-masing alat pemusnah.” Dan lihat, enam orang pria datang dari jurusan pintu gerbang Atas, yang menghadap ke utara, masing-masing dengan alat pemukul di tangannya. Seorang di antara mereka berpakaian lenan, dan di sisinya terdapat suatu alat tulis. Mereka ini masuk dan berdiri di samping mezbah tembaga.

Pada saat itu kemuliaan Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub, tempatnya semula, ke atas ambang pintu Bait Suci. Allah memanggil orang yang berpakaian lenan, yang mempunyai alat tulis di sisinya. Lalu Tuhan bersabda kepadanya, “Berjalanlah dari tengah-tengah kota Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan keji yang terjadi di sana.”

Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Tuhan berkata, “Ikutilah dia dari belakang melintasi kota itu, dan pukullah sampai mati semua orang yang tidak ditandai T. Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan! Orang-orang tua, teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan para wanita, bunuh dan musnahkanlah! Tetapi semua orang yang ditandai huruf T, jangan kalian sentuh! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku.”

Maka mulailah mereka dengan tua-tua yang berada di depan Bait Suci. Kemudian Ia bersabda kepada mereka, “Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh. Ayo, pergilah!” Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota. Lalu kemuliaan Tuhan pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub. Kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku melihat mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama dengan mereka. Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah Tuhan di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka. Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub. Masing-masing mempunyai empat muka dan empat sayap, dan di bawah sayap mereka ada bagian yang berbentuk tangan manusia. Kelihatannya muka mereka serupa dengan muka makhluk-makhluk yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan lurus ke depan.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 113:1-2.3-4.5-6 – Refren:4b

Kemuliaan Tuhan mengatasi langit.

  • Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
  • Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya terpujilah nama Tuhan. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.
  • Siapakah seperti Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?

Bait Pengantar Injil – 2 Korintus 5:19
Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.

Bacaan Injil – Matius 18:15-20

Jika saudaramu yang berbuat dosa mendengarkan teguranmu, engkau telah mendapatnya kembali.

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan dikau, bawalah seorang atau dua orang lain, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Aku berkata kepadamu: Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kalian lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.

Dan lagi Aku berkata kepadamu, Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Hubungan yang paling sehat bukanlah hubungan tanpa konflik, melainkan hubungan yang mampu mengelola konflik dengan komunikasi terbuka dan empati. Sebagaimana Sabda Yesus bahwa ketika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia secara pribadi. Jika tidak mendengar, ajak satu atau dua orang lain sebagai saksi. Jika tetap menolak, barulah dibawa ke komunitas. Tujuannya bukan menghukum, melainkan memulihkan.

Yesus mengajarkan bahwa kasih sejati tidak membiarkan saudara jatuh dalam dosa. Santo Fransiskus dari Sales pernah berkata, “Tegurlah dengan kasih; biarlah cintamu lebih besar daripada teguranmu.” Dalam komunitas Gereja, sering kita tergoda untuk diam demi “damai,” atau membicarakan orang lain di belakang. Namun, kasih sejati menuntut keberanian untuk menegur langsung, bukan untuk menjatuhkan, melainkan membangun.

Yesus menjanjikan bahwa kehadiran-Nya nyata di tengah mereka yang sepakat dan bersatu dalam doa. Maka, pengampunan, rekonsiliasi, dan keterbukaan menjadi jalan untuk menghadirkan Allah di tengah kita. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai – bukan dengan menghindari masalah, melainkan dengan menyelesaikannya dalam terang kasih Kristus.

Tuhan Yesus, berilah kami keberanian untuk menegur dengan kasih dan rendah hati. Bimbing kami agar mampu membangun perdamaian dalam setiap relasi. Hadirlah selalu di tengah komunitas kami yang ingin setia pada-Mu, amin.

This image has an empty alt attribute; its file name is ChatGPT-Image-Jun-4-2026-04_04_43-PM-1.png

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor

Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Baca Selengkapnya
Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Selasa, 11 Agustus 2026
Senin, 10 Agustus 2026 • Mirifica (Komsos KWI)

Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Selasa, 11 Agustus 2026

SELASA PEKAN BIASA XIX
Peringatan Wajib Santa Klara dari Assisi – Perawan
Warna Liturgi: Putih

Bacaan I – Yehezkiel 2:8-3:4

Diberikan-Nya gulungan kitab itu untuk kumakan, dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.

Bacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Tuhan bersabda kepadaku, “Hai, anak manusia, dengarkanlah sabda-Ku kepadamu. Janganlah membantah seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.” Aku melihat, ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab. Ia Membentangkannya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.

Sabda-Nya kepadaku, “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.” Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan. Lalu sabda-Nya kepadaku, “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini dan isilah perutmu dengannya.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku. Tuhan bersabda lagi, “Hai anak manusia, mari, pergilah! dan sampaikanlah sabda-Ku kepada mereka.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 119:14.24.72.103.111.131 – Refren:103a

Betapa manisnya janji Tuhan bagi langit-langitku.

  • Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu, melebihi segala harta.
  • Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, dan kehendak-Mu menjadi penasehat bagiku.
  • Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih berharga dari pada ribuan keping emas dan perak.
  • Betapa manisnya janji-Mu bagi langit-langitku, melebihi madu bagi mulutku.
  • Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.
  • Mulutku kungangakan dan mengap-mengap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.

Bait Pengantar Injil – Matius 11:29
Terimalah beban-Ku dan belajarlah daripada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.

Bacaan Injil – Matius 18:1-5.10.12-14

Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini.

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.

Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Malaikat-malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

Lalu Yesus bersabda lagi, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan

Anak kecil dengan polosnya pasti percaya terhadap orang tuanya. Saat ayahnya berkata, “Lompat, Ayah tangkap,” anak itu melompat tanpa ragu, meski dari tempat tinggi. Ia tidak memikirkan risiko. Ia percaya. Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada murid-murid bahwa untuk menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga, seseorang harus menjadi seperti anak kecil. Bukan dalam arti kekanak-kanakan, melainkan dalam kerendahan hati, kepercayaan penuh, dan kesederhanaan hati.

Santa Klara menjadi contoh nyata. Terlahir dari keluarga bangsawan, Klara rela meninggalkan kekayaan dan kenyamanan demi mengikuti Kristus dalam kesederhanaan dan kemiskinan sejati. Ia percaya sepenuh hati pada penyelenggaraan Tuhan, seperti anak kecil yang yakin bahwa bapaknya selalu menyediakan yang terbaik. Klara pernah berkata, “Cinta itu tidak dikhianati, cinta sejati memberi diri sepenuhnya tanpa meminta balasan.” Keutamaan Klara adalah kebersahajaan dan penyerahan total, yang justru menjadi kekuatan besar bagi Gereja hingga hari ini.

Yesus juga mengingatkan bahwa Allah tidak menghendaki seorang pun “yang kecil ini” binasa. Ia mencari yang hilang, menggendongnya pulang dengan sukacita. Seperti Gembala Baik, Ia tak menghitung jumlah, tetapi menghargai setiap jiwa. Maka, kita pun dipanggil untuk tidak meremehkan yang kecil: orang kecil, suara kecil, bahkan iman yang kecil.
**
Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami sederhana dan percaya seperti anak kecil di hadapan-Mu. Semoga kami mampu mencintai dan melayani tanpa pamrih seperti Santa Klara. Bimbinglah kami untuk menemukan Engkau dalam hal-hal yang kecil namun penuh makna, amin.**

This image has an empty alt attribute; its file name is ChatGPT-Image-Jun-4-2026-04_04_43-PM-1.png

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor

Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Baca Selengkapnya

Kunjungi Kami

Informasi Kontak

Alamat

Jl. Raya Kp. Sawah No.55 1,
RT.006/RW.004,
Jatimelati,
Kec. Pd. Melati,
Kota Bks,
Jawa Barat 17415

Telepon

(021) 123-4567

Email

info@servatius.id

Jam Kantor Paroki

Senin - Jumat 08:00 - 16:00 WIB
Sabtu 09:00 - 12:00 WIB
Minggu Tutup