MINGGU PEKAN BIASA XX
HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA
Warna Liturgi: Putih
Bacaan I – Wahyu 11:19a;12:1.3-6a.10ab
Seorang perempuan berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya.
Bacaan dari Kitab Wahyu:
Aku, Yohanes, melihat Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu. Lalu tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung. Dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan, ia berteriak kesakitan.
Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit: Seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Ekornya menyapu sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.
Naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkannya. Dan perempuan itu melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi. Tetapi tiba-tiba Anak itu direngut dan dibawa lari kepada Allah dan ke hadapan takhta-Nya. Lalu perempuan itu lari ke padang gurun, di mana Allah telah menyediakan suatu tempat baginya.
Kemudian aku mendengar suara yang nyaring di surga, “Sekarang telah tiba keselamatan, kuasa dan pemerintahan Allah kita! Sekarang telah tiba kekuasaan Dia yang diurapi Allah! Sebab para pendakwa yang siang malam mendakwa saudara-saudara kita di hadapan Allah, telah dilemparkan ke bawah!”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan – Mazmur 45:10c-12.16 – Refren:10d
Di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.
- Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi bergairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!
- Dengan sukacita dan sorak-sorai mereka dibawa, mereka masuk ke dalam istana raja.
Bacaan II – 1 Korintus 15:20-26
Kristus sebagai buah sulung, sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya
Bacaan dari Surat pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:
Saudara-saudara, Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tibalah kesudahannya, yaitu bilamana Kristus menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Kristus harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang Ia binasakan ialah maut.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Bacaan Injil – Lukas 1:39-56
Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan meninggikan orang-orang yang rendah.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Beberapa waktu sesudah kedatangan malaikat Gabriel, bergegaslah Maria ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya, dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.”
Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah kudus. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya, dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”
Kira-kira tiga bulan lamanya Maria tinggal bersama dengan Elisabet, lalu pulang ke rumahnya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Seorang ibu pernah berkata saat anaknya sukses, “Rasanya semua sakit dan pengorbanan waktu dulu langsung hilang melihat dia bahagia.” Kalimat sederhana ini menggambarkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa cinta sejati selalu melahirkan pengharapan, dan pengorbanan tak pernah sia-sia.
Hari ini kita merayakan kepenuhan cinta dan pengharapan itu dalam diri Maria. Ia, yang setia mengikuti kehendak Allah, yang menderita bersama Putranya di bawah salib, kini dimuliakan: diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya. Inilah pengharapan kita juga: bahwa dalam Kristus, maut bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal. Dalam Injil Lukas, Maria menyanyikan Magnificat, pujian dari hati seorang yang percaya bahwa Allah berpihak pada yang rendah hati. Dalam Bacaan Pertama, Maria digambarkan sebagai perempuan berselubungkan matahari – tanda bahwa Allah melindungi dan meninggikan umat-Nya yang setia. Paulus menegaskan, “Kristus telah bangkit sebagai yang sulung dari antara orang mati,” dan Maria adalah buah pertama karya penebusan yang telah tuntas.
Maria, sebagai manusia yang pertama-tama sepenuhnya menanggapi rahmat Allah, menerima janji kebangkitan lebih dahulu, sebagai gambaran Gereja dan harapan bagi kita semua. Seperti Maria, kita pun dipanggil untuk mengandalkan Allah dan setia dalam segala keadaan. Santa Thérèse de Lisieux berkata, “Aku tidak takut akan kematian … karena aku tahu seorang ibu menungguku di surga.” Mari menapaki jalan iman ini dengan sukacita dan harapan yang teguh.
Bunda Maria, tuntunlah kami untuk percaya sepenuhnya pada janji Allah seperti engkau. Dampingilah kami dalam peziarahan menuju kemuliaan abadi, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.
Renungan ini ditulis oleh Mirifica (Komsos KWI)