Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Minggu, 1 Februari 2026

Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Minggu, 1 Februari 2026

14 Februari 2026 | Mirifica (Komsos KWI)

PEKAN BIASA VI
Warna Luturgi: Hijau

Bacaan I – Sirakh 15:15-20

Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik.

Bacaan dari Kitab Putera Sirakh:

Asal sungguh mau, engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setiapun dapat kaupilih. Api dan air telah ditaruh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu. Hidup dan mati terletak di depan manusia, apa yang dipilih akan diberikan kepadanya. Sungguh besarlah kebijaksanaan Tuhan. Dia kuat dalam kekuasaan-Nya dan melihat segala-galanya. Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takwa kepada-Nya. Dan segenap pekerjaan manusia Ia kenal. Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berdosa.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 119:1-2.4-5.17-18.33-34; R:1b

Berbahagialah orang yang hidup menurut Taurat Tuhan.

  • Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.
  • Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Kiranya hidupku mantap untuk berpegang pada ketetapan-Mu!
  • Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup, dan aku hendak berpegang pada firman-Mu. Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban hukum-Mu.
  • Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan, petunjuk-petunjuk ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu; dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.

Bacaan II – 1 Korintus 2:6-10

Sebelum dunia dijadikan, Tuhan Allah telah menyediakan hikmat bagi kemuliaan kita.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara, kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, bukan hikmat yang dari dunia ini, dan bukan hikmat yang dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan, tetapi hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia. Tetapi seperti ada tertulis, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: Semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Semua itu telah menyatakan Allah kepada kita berkat Roh-Nya, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil – Matius 11:25
Aku Bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya Engkau nyatakan kepada orang sederhana.

Bacaan Injil – Matius 5:17-37

Lain yang diajarkan nenek moyang, lain yang diajarkan Yesus.

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit Yesus mengajar murid-murid-Nya, kata-Nya, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, tidak satu iota atau satu titik pun akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.’

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain,
ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita:
Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum! Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, ‘Kafir!’ ia harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata, ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar firman, ‘Jangan berzinah!’ Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa memandang perempuan dengan menginginkannya, dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya. Maka, jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tangan kananmu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah, karena lebih baik bagimu jika satu anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu seutuhnya masuk neraka. Telah dikatakan: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Namun, Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina. Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Namun, Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.

Renungan

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh menegaskan bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih: Kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk. Namun, kebebasan itu bukan tanpa arah. Tuhan menunjukkan jalan hidup melalui hukum-Nya yang tidak menindas, tetapi melindungi (bdk. Sir. 15:15–20). Hukum Tuhan bukan beban, melainkan panduan agar kita hidup dalam kehendak-Nya dan menjaga relasi dengan sesama.

Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (bdk. Mat. 5:17–37). Ia mengajak kita untuk memahami hukum bukan hanya secara lahiriah, melainkan lebih dalam, dari hati. Misalnya, tidak cukup hanya “tidak membunuh”, tetapi juga menghindari amarah yang merendahkan martabat orang lain. Tidak cukup “tidak berzina”, tetapi juga menjaga pandangan dan niat hati. Yesus ingin kita hidup bukan dalam kepura-puraan, melainkan dalam integritas.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menunjukkan bahwa kebijaksanaan sejati datang dari Allah, bukan dari dunia. Dunia mengagungkan kecerdasan, tetapi kadang mengabaikan nilai-nilai kasih dan keadilan. Allah mengungkapkan rahasia hikmat-Nya kepada mereka yang rendah hati dan terbuka. Inilah yang membedakan: hidup yang dipimpin oleh Roh Allah akan selalu berbuah dalam kasih, pengampunan, dan kebenaran (bdk. 1Kor. 2:6–10).

Dewasa ini, kebebasan sering dimaknai sebagai “bebas melakukan apa saja”. Namun, iman Kristiani mengajarkan bahwa kebebasan sejati adalah ketika kita memilih yang baik, yang benar, dan yang membawa kehidupan, meskipun itu sulit. Ketika kita menolak menyebar hoaks, ketika kita menahan amarah dan memilih berdamai, ketika kita tidak tergoda menyelewengkan kekuasaan, di situlah hukum kasih Yesus menjadi nyata dalam hidup kita.

Mari kita renungkan: Apakah pilihan-pilihan kita hari ini mencerminkan kasih Allah? Apakah kebebasan kita digunakan untuk membangun, atau justru untuk meruntuhkan? Tuhan telah memberi kita hukum kasih, dan Yesus telah menunjukkan jalannya. Tugas kita adalah memilih dengan bijaksana dan menghayatinya dalam kehidupan nyata.

Tuhan, tuntunlah kami agar dalam setiap kebebasan yang kami miliki, kami senantiasa memilih kasih, keadilan, dan kebenaran, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor.

Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Renungan ini ditulis oleh Mirifica (Komsos KWI)

Bagikan

Terima Renungan Harian melalui Email

Mulai hari Anda dengan renungan spiritual yang menginspirasi. Kami akan mengirimkan renungan harian langsung ke kotak masuk email Anda setiap pagi.

Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja. Kami menghormati privasi Anda.