"Para murid melihat Yesus berjalan di atas air. Inilah Injil Suci menurut Markus: Sesudah memberi makan lima ribu orang, Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu, dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida. Sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam, perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika melihat betapa payahnya para murid mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Yesus datang kepada mereka berjalan di atas air, dan Ia hendak melewati mereka. Ketika melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat-Nya dan sangat terkejut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Yesus naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil. Demikianlah Sabda Tuhan. "
HARI BIASA SESUDAH EPIFANI
St. Raymundus dari Penyafort – Imam
B. Lindalva
Warna Liturgi: Putih
Bacaan I – 1 Yohanes 4:11-18
Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:
Saudara-saudaraku yang terkasih, Allah begitu mengasihi kita! Maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Tetapi jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. Beginilah kita ketahui bahwa kita berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: yakni bahwa Ia telah mengaruniai kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dan kami telah bersaksi
bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.
Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yakni kalau kita mempunyai keberanian yang penuh iman pada hari penghakiman, karena, sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan, sebab ketakutan mengandung hukuman. dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan – Mazmur 72:1-2.10-11.12-13; R:11
Segala bangsa di bumi, ya Tuhan, sujud menyembah kepada-Mu.
- Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja! Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan menghakimi orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!
- Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!
- Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, ia akan membebaskan orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang papa.
Bait Pengantar Injil – 1Tim 3:16
Terpujilah Engkau, Kristus, yang diwartakan kepada para bangsa! Terpujilah Engkau, Kristus, yang diimani oleh seluruh dunia.
Bacaan Injil – Markus 6:45-52
Para murid melihat Yesus berjalan di atas air.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Sesudah memberi makan lima ribu orang, Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu, dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida. Sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa.
Ketika hari sudah malam, perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika melihat betapa payahnya para murid mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Yesus datang kepada mereka berjalan di atas air, dan Ia hendak melewati mereka. Ketika melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat-Nya dan sangat terkejut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Yesus naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Iman kita teruji terutama saat kita sedang dalam kesulitan hidup. Rasa takut terhadap situasi tertentu kerap kali membuat kita tidak nyaman. Jika kita takut, di sana segala pikiran terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk akan mengganggu situasi batin kita. Perasaan takut itu sering kali membuat kita mudah mengalah dengan keadaan, putus asa dan merasa seolah-olah tidak lagi punya pegangan hidup.
Para murid dalam cerita Injil hari ini mengalami ketakutan, sebab badai angin sakal mengombang ambingkan perahu mereka. Dalam ketakutan itu, Yesus hadir dan berseru, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Namun, para murid tak mengerti dan tidak mampu melihat dan mengalami kehadiran Yesus dalam situasi tersebut. Mereka bahkan menganggap Dia sebagai hantu.
Dalam perahu kehidupan ini, kita tidak bisa menghindar dari cobaan-cobaan berupa guncangan angin sakal atau badai yang setiap saat terjadi. Rasa takut yang berlebihan sering kali membuat kita mudah berprasangka buruk, mudah goyah sehingga sulit melihat dan melakukan kebaikan yang telah Tuhan perlihatkan kepada kita. Semoga kita selalu yakin bahwa Tuhan akan selalu menenangkan suasana batin kita dan membebaskan kita dari ketakutan. Memilih teguh beriman kepada-Nya berarti menjadikan Dia penopang di setiap tantangan hidup kita.
Ya Tuhan, temani kami agar selalu setia mencari ketenangan batin pada-Mu. Semoga kami tetap berpegang pada Mu tatkala hidup kami diterpa berbagai masalah, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.
Renungan ini ditulis oleh Mirifica (Komsos KWI)