""
Hari Kelima Oktaf Natal
St. Thomas Becket dari Canterbury
St. Kasper Del Bufalo
Daud – Raja Israel
Warna Liturgi: Putih
Bacaan I: 1 Yohanes 2:3-11
Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:
Saudara-saudara terkasih, inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata “Aku mengenal Allah” tetapi tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta, dan tidak ada kebenaran di dalam dia. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu kasih Allah sungguh sudah sempurna; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Allah. Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Allah, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.
Saudara-saudara kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu; perintah ini telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang melenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barangsiapa berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 96:1-2a.2b-3.5b-6; R:11a
Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai.
- Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya!
- Kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari pada-Nya, ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku.
- Tuhanlah yang menjadikan langit, keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan hormat ada di tempat kudus-Nya.
Bait Pengantar Injil: Lukas 2:32
Kristus cahaya yang menerangi pada bangsa, Dialah kemuliaan bagi umat Allah.
Bacaan Injil: Lukas 2:22-35
Kristus cahaya para bangsa.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat, Maria dan Yusuf membawa kanak-kanak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika kanak-kanak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Kanak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Kisah yang digambarkan dalam Injil hari ini tidak hanya menjelaskan pentingnya tradisi dan hukum yang harus dipatuhi menurut agama Yahudi, tetapi juga bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan kita melalui perjumpaan yang sering kali kita anggap biasa saja. Yusuf dan Maria membawa Yesus yang masih bayi ke Bait Allah di Yerusalem untuk melakukan upacara penyucian sesuai Hukum Musa. Dalam ketaatan mereka melakukan hukum agama, mereka bertemu dengan Simeon, yang telah dijanjikan oleh Roh Kudus bahwa dia tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Simeon, didorong oleh Roh Kudus, mengenali Yesus sebagai ”terang yang menerangi bangsa-bangsa”.
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam ketaatan dan kesetiaan kita kepada Tuhan, sering kali Dia menyediakan pertemuan dan momen istimewa yang akan mengubah hidup kita. Pertemuan Maria dan Yusuf dengan Simeon adalah contoh sempurna bagaimana dalam menjalani hidup yang taat kepada Tuhan, kita diberikan kejutan-kejutan dan anugerah-anugerah tak terduga.
Perikop yang kita renungkan hari ini mengajak kita terbuka untuk membiarkan Tuhan berbicara dan bekerja melalui perjumpaan-perjumpaan yang kita alami setiap hari. Semoga kita dapat belajar dari Yusuf, Maria, dan Simeon untuk selalu berbicara dan berjalan dalam iman, ketaatan, dan penyerahan kepada penyelenggaraan Tuhan.
Tuhan, berilah kami kekuatan dan keberanian untuk mewartakan kebaikan-Mu kepada orang-orang di sekitar kami, a****min.

Sumber: Renungan Ziarah Batin Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.
Renungan ini ditulis oleh Mirifica (Komsos KWI)